Sabtu, Januari 07, 2012

Sesungguhnya Pertolongan Allah itu Dekat,......

Sudah tak terbilang rasanya Allah membantuku untuk meluar dari segala kesulitan yang aku hadapi. Mungkin aku termasuk salah satu orang yang paling beruntung di dunia ini karena selalu merasakan mu'jizatnya sebuah do'a.

Sebuah kisah terbaru yang bisa aku ceritakan disini adalah peristiwa beberapa waktu lalu, kembali aku merasakan betapa pertolongan Allah itu sangat dekat, sehingga belum kering mulut ini berucap, pertolongan Allah sudah datang.

Sebagai seorang pekerja lapangan, aku kerap berpergian ke luar daerah sesuai dengan dimana aku ditugaskan. Ceritanya adalah disuatu hari, aku merasa sangat lapar sementara aku tidak memiliki uang sedikitpun yang bisa kupergunakan untuk membeli sesuatu untuk mengganjal perutku. seperti biasa, ketika waktu Maghrib sudah tiba, akupun bergegas berangkat ke musholla terdekat. Dalam perjalan kesana, hati ini membatin yang kira-kira seperti ini

"Ya Allah, sungguh perut ini terasa lapar sekali, semoga Engkau memberikan jalan keluar bagiku untuk bisa mengisi perutku ini"

Singkatnya akupun terus sholat maghrib berjama'ah di musholla yang dilanjutkan dengan wiridan biasa seusai sholat. Ketika wirid usai, tak lupa kupanjatkan do'aku yang sangat sederhana memohon agar Allah meringankan rasa lapar di perut ini.

Beum juga usai aku berdiri seusai memanjatkan do'a tersebut, tiba-tiba saja seorang imam masjid menghampiriku, sambil menepuk pundakku secara perlahan sang Imam pun berkata kepadaku

"Dik, nanti ada undangan tahlilan di mesjid seberang sana, tolong ikut ya,..." ucapnya singkat.

"Oh iya pak,..." jawabku singkat

Usai kutunaikan sholat sunnat ba'da maghrib, akupun terbengong di depan musholla karena masih bingung mau kemana. Kalaupun tahlilan, mesjidnya dimana ? dengan siapa aku harus berangkat kesana karena aku sama sekali tidak tahu dimana tempatnya.

Dikala bingung melanda, sang imam pun menghampiriku sambil berkata, "ikut saja dengan bapak, kita naik motor sama-sama." katanya.

Singkatnya akupun ikut membonceng ke tujuan. Setibanya dimesjid, ternyata memang sudah berkumpul ramai orang setempat menghadiri undangan tahlilan tersebut. Lalu seperti biasa, usai tahlilan seluruh jama'ah diberikan makanan (istilahku adalah besek) masing-masing. Akupun berucap di dalam hati, "Alhmadulillah Ya Allah,... kau berikan rezeki padaku sehingga aku bisa mengisi perutku hari ini" batinku berucap.

Selesaikah pertolongan Allah ? rupanya tidak. Sebelum sempat aku beranjak pulang, sang imam kembali menghampiri aku sambil berkata ;

"Dik, jangan pulang dahulu ya, di gang sebelah sana ada undangan lagi" ujarnya kepadaku sambil kembali memboncengi aku ke tempat yang dimaksud.

Setibanya di tempat kedua, rupanya sang tuan rumah mengundang warga sekitar untuk merayakan sedekahan putrinya yang baru saja menikah. Dan kembali seluruh jama'ah yang hadir diberikan lagi makanan untuk dibawa pulang.

Alhasil, malam itu aku membawa banyak makanan untuk dibawa pulang. Malah makanan tersebut bisa aku bagikan kepada teman-teman yang berada di base tempatku menginap. Lalu apa makna yang bisa didapat dari cerita tersebut di atas ?

Masih aku ingat kutipan ayat-ayat di dalam Al-Qur'an,

"Waman yattaqillaha,yaj'al lahu makhroja,.... wayarzuquhu min haitsu la yahtasib,..." (siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan selalu memberikan jalan keluar dari segala kesulitan,.... dan memberikan rezeki dari tempat yang tidak pernah diduganya)

Kemudian ada lagi ayat Allah yang berbunyi :

"Inna Nasrallahi Qoriib,.." (sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat)
"Ud'uni Astajiblakum,..." (Mintalah padaKu, kan Kukabulkan permintaanmu)

yang ditambah oleh sabda nabi Muhammad S.A.W :

"Addu'a-u Mukhhul Ibadati,..." (Do'a itu sumsumnya ibadah)

Hari itu aku merasakan kembali betapa Allah telah menolongku dari kesulitan dengan memberikan jalan keluar serta memberikan rezeki dari tempat yang tidak pernah aku pikirkan. Dan Allah memberikan pertolongan itu sebelum kering mulut ini memohon.

Subhanallah,.... Maka Nikmat Allah mana lagi yang akan kau dustakan (dikutip dari ayat Allah di dalam surat Arrahman).

Sungguh pengalaman hidup yang sangat berharga bagiku. Jangan pernah berhenti untuk berharap akan pertolongan Allah sekecil apapun peluang itu terbuka, karena bagi Allah tidak ada satupun yang mustahil.

Pelajaran hidup ini akan selalu teringat di hatiku. Akan pula tercatat sebagai salah satu dari kisah yang kutemukan di dalam perjalanan hidupku. Sungguh aku malu sekali bila melihat diri ini yang masih berkubang dosa, sementara Allah tidak pernah sedikitpun berpaling dariku dan selalu membantuku setiap waktu.

Semoga Allah selalu membukakan mata hatiku untuk selalu bisa melihat seluruh nikmat dan karunia yang diberikanNya serta mensyukuri seluruh pemberianNya.

Ya Fattah,... (wahai Zat yang Maha Membukakan) wa Ya Rozzaaq,... (dan wahai Zat yang Maha Merizqi-an), segala puji bagiMu yang telah memberikan Nikmat dan Karunia yang sangat besar kepadaku. Semoga kau menjadikanku bagian orang-orang yang selalu bersyukur,.....

Amiiin,....

Minggu, Desember 11, 2011

Antara IOS dan ANDROID

Beberapa bulan belakangan ini aku lagi kepengen punya tablet. Alasannya sangat simple, It's handy,.... light,.... and the important thing it's suitable while supporting my activities. Kerjaanku di lapangan benar-benar menuntutku untuk menggunakan perangkat yang mobile juga. Saat ini, peranti mobilitasku sudah cukup, ada ACER Aspire One yang 8,9 inch atau Compac 12" ku yang selalu setia bergantian menemaniku kerja. Kemudian untuk cek email, aku juga ditemani BB Curve 9300 dan Nokia E63 yang kupikir lumayan cukup untuk bantu ngebalas email klien atau mendapatkan koneksi internet secara mobile. Apalagi setelah kuinstal software Jokuispot di E63 ku dimana fasilitas Wifi yang ada bisa dioptimalkan. Semakin mudah saja rasanya mendapatkan Hotspot dimanapun aku berada. Tapi ketika melihat tablet, rasanya kok jadi kepengen punya ya,........ ?????

Kembali ke pokok judul, sudah 3 bulan ini aku sibuk mencari-cari keterangan perihal kedua barang idamanku ini. Dari mulai sistim operasinya sampai ke gadgetnya sendiri. Lalu apa sih pilihanku perihal tablet ini ? Setelah sekian lama menelusuri internet, masuk room sana-sini, akhirnya keputusan finalku adalah Ipad-2 dengan sistem operasi IOS dari Apple atau Asus Transformer dengan sistim operasi Honeycomb-nya dari Android. Bukan tidak dengan alasan kedua gadget tersebut kupilih, Ipad-2 dengan IOS-nya benar-benar memberikan pengalaman yang "exciting", ditambah dengan banyaknya aplikasi "pilihan" yang tersedia dan telah melewati verifikasi yang ketat benar-benar menyediakan pilihan yang beragam. Kemudian Asus Transformer dengan Android Honecomb-nya juga tidak bisa dianggap remeh. Sistim aplikasi "open source"-nya memungkinkan user untuk mengcustom bebas di gadgetnya, ditambah aplikasi gratisnya yang sangat banyak tersedia cukup membuat kantong bernafas lega.

Sayangnya, harga yang tinggi membuatku masih bermimpi untuk memiliki salah satunya. Budget bulanan yang pas-pas-an serta sudah terjadwal pengalokasiannya membuatku saat ini hanya bisa menahan keinginanku ini.

Semoga saja Allah memberikan kemudahan bagiku untuk bisa mewujudkan keinginanku ini memiliki salah satu dari dua barang diatas. Tidak hari ini,... ya besok, tidak besok,.... ya lusa, tidak lusa,... ya minggu depan,... bulan depan,... atau tahun depan,...

Amiiin,........

Kamis, September 08, 2011

Sebuah Perenungan

Kusut,...!!! mungkin cuma itu kata yang tepat untuk mewakilkan perasaanku saat ini. Sudah 1 bulan ini hati dan fikiran tidak selaras. Gundah berkecamuk di dada, fikiran menerawang jauh mencoba memahami beberapa hal yang hingga saat ini belum kutemui jawabannya.

Jujur, hati ini terasa tercampur-aduk dengan beragam rasa, ada marah disana,... ada lega,... ada sedih,... ada kecewa,... ada takut,... entahlah, terlalu banyak untuk diwakilkan dengan untaian kata.

Dalam gelapnya hati serta fikiran, aku masih berusaha untuk merenungi segala apa yang telah kulewati, mencoba merangkai satu demi satu peristiwa, menjalin untaian kejadian yang mungkin luput dari pemikiran.

Dalam perenungan panjang masih belum kudapatkan apa yang kucari, hanya mencoba membenarkan tindakan yang hatiku sendiri tahu bahwa itu salah. Dari sekian banyaknya pilihan yang ada, saat ini aku enggan untuk memilih,... hanya berusaha mengikuti alur keinginan hati yang ada. Well,... sadar banget kalau itu salah,... tapi itulah kenyataan yang kuhadapi saat ini.

Swear, ini nggak gue banget,...!!! benar-benar keluar dari jalur normal yang biasa aku jalani.

Dalam kelamnya hati dan akal, aku masih berharap ada secercah titik terang yang bisa membawaku keluar dari sisi ini. Tak hentinya munajat kupanjatkan untuk mendapatkan jalan kembali agar langkah dan hati bisa terarah kembali,... agar tubuh dan fikiran bisa selaras lagi,...

Ya,... Muqollibal Qulub,....
Tsabbit Qolbii 'Ala Diinika,...

Wa Ya Muyassiro Kulli 'Asiir,...
Yassir 'alaika Kulla Asiir,...
Fataisiirul 'Asiir 'Alaika Yasiir,...

Rabu, Juli 13, 2011

When you love someone, you've got to learn to let him go,.....

Ini adalah saat terberat dalam perjalanan,ternyata membangun jauh lebih mudah ketimbang mempertahankannya. Kalau sampai hari ini aku masih punya sebuah keyakinan bahwa segala sesuatu akan segera bisa diselesaikan itu karena aku masih yakin dengan niat baik serta cita-citaku dahulu.

Namun seiring dengan waktu, kendala terberat memang datang dari internal kita. Lebih mudah menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang datang dari luar ketimbang permasalahan dari dalam. Memang tidak mudah melawan ego pribadi saat dihadapkan pada sebuah tawaran yang menggiurkan.

Well, inilah hidup. Setiap langkah ibarat bidak catur yang harus dipikirkan dan diperhitungkan dengan matang. Salah jalan berarti kekalahan di depan mata. Hidup memang keras, setiap saat bisa saja berubah. Itulah makna membangun jauh lebih mudah ketimbang mempertahankannya.

Good luck buddy,... i hope you'll find your own way better than now.

Senin, April 25, 2011

Pentingnya Mengaji Diri

Peribahasa mengatakan "Ringan Mata Memandang, Berat Bahu Memikul" yang kalau dalam arti harfiah adalah "Menilai Pekerjaan Orang Itu Sangatlah Mudah, Namun Akan Berbeda Saat Mengerjakannya Sendiri".

Tulisan ini kubuat sebagai bentuk Aji Diri bahwasanya terkadang mudah sekali menngomentari pekerjaan orang, namun belum tentu mudah bila pekerjaan itu dijalani sendiri. Dalam kehidupan sehari hari tentu sering sekali dijumpai betapa orang mudah mencela, mengkoreksi kesalahan orang lain padahal dalam praktek yang sesungguhnya belum tentu mudah saat kita kerjakan pekerjaan orang tersebut. Kebiasaan kita yang suka melihat cangkang ketimbang isinya membuat kita lupa bahwa setiap pekerjaan memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Untuk pekerjaan tukang sampah sekalipun, memiliki kesulitan yang tidak mudah saat kita jalani. Ini yang membuat kita harus selalu mengaji diri sebelum memberikan komentar atau penilaian terhadap usaha seseorang.

Tak ada gading yang tak retak, karena tidak ada suatupun yang sempurna di muka bumi ini. Sungguh suatu hal yang kadang menggelitik hati dikala melihat seseorang dengan ringannya mengomentari pekerjaan orang lain.

Mengaji Diri merupakan suatu cara untuk meneliti ke dalam diri kita sendiri akan kemampuan kita dalam mengemban tugas yang diberikan, menilai pekerjaan orang lain sampai ke inti pekerjaannya sehingga kita tidak akan terlalu mudah menganggap remeh orang lain. Pernahkan terpikirkan oleh kita betapa pekerjaan orang lain itu tidaklah semudah yang dilihat. Kadangkala sisi egois kita selalu timbul manakala melihat pekerjaan orang lain, gatalnya mulut membuat lidah ini tidak bisa diam untuk selalu menilai, mengomentari pekerjaan orang lain padahal belum tentu saat kita kerjakan pekerjaan orang tersebut kita bisa melaksanakannya lebih baik dari yang dilakukan oleh orang tersebut.

Kunci terpenting dalam mengaji diri adalah kerendahan hati untuk mengakui betapa setiap pekerjaan memiliki kesulitan yang berbeda. Sayangnya kita lebih senang melihat pekerjaan orang dengan mata kasar kita ketimbang mata batin kita.

Sabtu, April 02, 2011

My Dream Guitar - It's Classical Acoustic Guitar




Sejak dahulu aku senang banget sama permainan gitar klasik. Disiplin-nya membuat aku tertarik mendalami permainan gitar jenis ini, disamping aku tidak terlalu suka dengan permainan gitar rock.

Sudah sejak lama punya niat untuk mengganti gitar Yamaha C-15 yang sudah setia nemanin selama lebih dari 10 tahun. Akhirnya niat itu kesampaian juga. Gitar ketiga akhirnya bisa selesai juga. Gitar ini adalah Handmade, terbuat dari kayu mahoni untuk bagian belakang, samping dan depan. Sengaja aku pesan ke pembuatnya dengan menambahkan initial nama di Headstocknya.

It's my Dream Guitar, memang belum sesuai dengan apa yang masih menjadi keinginan hatiku, namun ini sudah cukup mewujudkan keinginanku. Hmmh,... sepertinya permainan lagu Capricho Arabe, Canon in D, Asturias dan lainnya akan semakin asik nantinya.

Selasa, September 08, 2009

Yassiruu,... Walaa Tu'assiruu,.... (Permudah,... dan Jangan Mempersulit)

Ada pengalaman berharga dari kalimat di atas, “Permudahlah …. dan Janganlah Mempersulit…”.

Sudah lama ada satu hal yang mengganjal dihatiku, yaitu menyelesaikan permasalahan harta warisan peninggalan orang tuaku. Orang tuaku meninggalkan sebidang tanah dan rumah bagi kami anak-anaknya, dimana didalamnya terdapat pula hak orang lain yang harus segera diberikan.

Jujur sekali aku rasakan betapa permasalahan ini tidak mudah untuk dimufakati karena lain orang berarti lain pula pemikirannya. Sebagai anak lelaki tertua di keluarga, sudah menjadi tugasku untuk segera menyelesaikan urusan ini dengan segera karena aku tahu bahwa semakin aku tunda menyelesaikannya, maka semakin banyak hal ini menjadi potensi masalah dikemudian hari.

Singkatnya, setelah menempuh beberapa kali pertemuan keluarga, akhirnya kami mendapati kesepakatan baik dari jatah pembagian dan rencana ke depannya dimana kami semua sepakat untuk menjual harta waris tersebut.

Lalu apa kaitannya hal ini dengan tema yang aku pasang di atas ?

Mempermudah segala urusan selama bisa dilakukan merupakan satu hal lain yang tidak mudah untuk dilakukan. Mempermudah membutuhkan kebesaran hati untuk menjalankan,… dan keikhlasan hati untuk menerima hasilnya.

Berapa banyak hubungan persaudaraan yang akhirnya pecah karena permasalahan harta waris ? Berapa banyak nyawa yang hilang karena keserakahan ? Itu satu hal yang tidak aku inginkan. Aku selalu menganggap harta warisan merupakan suatu rejeki yang tidak terduga bagiku. Jadi aku selalu berusaha jangan sampai rejeki yang tidak terduga ini membuat apa yang telah ada saat ini menjadi hilang hanya gara-gara memperebutkannya.

Sungguh aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikanku kemudahan dalam seluruh prosesnya. Dari kemudahan proses perhitungannya,… pembagiannya,… hingga penjualannya,… benar-benar atas campur tangan Allah semata.

Seperti yang terjadi kemarin, proses penjualan dibuat demikian mudahnya oleh Allah. Pihak pembeli langsung sepakat dengan tawaran yang diberikan. Proses pemberian uangnyapun dilakukan dengan mudah. Hal ini membuatku sadar bahwa dengan mempermudah segala urusan orang lain, maka Insya Allah segala urusan kitapun akan dipermudah oleh Allah.

Allah berfirman “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”, masalahnya kita tidak pernah menyadarinya. Kita tidak pernah mempasrahkan urusan kita kepada Allah, sebaik-baik dzat yang Maha Mengatur,… sebaik-baik dzat yang Maha Berkuasa dan Berkehendak,…
Tidak ada yang mustahil bagi Allah dan itulah yang harus kita jadikan pegangan dalam berikhtiar. Sayangnya kita sebagai manusia selalu lupa bahwa dibalik ikhtiar yang kita lakukan, selalu pasrahkan hasilnya kepada Allah, karena Allah selalu tahu yang terbaik bagi kita.

Ya Allah,…
Alhamdulillah atas segala kemudahan yang telah engkau berikan kepadaku,… Alhamdulillah atas segala rizki yang telah engkau limpahkan kepadaku, …
Hari ini aku sadari satu hal bahwa sungguh tidak ada yang bisa mencegah sesuatu yang telah Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberikan sesuatu yang telah Engkau cegah.