Minggu, Desember 11, 2011

Antara IOS dan ANDROID

Beberapa bulan belakangan ini aku lagi kepengen punya tablet. Alasannya sangat simple, It's handy,.... light,.... and the important thing it's suitable while supporting my activities. Kerjaanku di lapangan benar-benar menuntutku untuk menggunakan perangkat yang mobile juga. Saat ini, peranti mobilitasku sudah cukup, ada ACER Aspire One yang 8,9 inch atau Compac 12" ku yang selalu setia bergantian menemaniku kerja. Kemudian untuk cek email, aku juga ditemani BB Curve 9300 dan Nokia E63 yang kupikir lumayan cukup untuk bantu ngebalas email klien atau mendapatkan koneksi internet secara mobile. Apalagi setelah kuinstal software Jokuispot di E63 ku dimana fasilitas Wifi yang ada bisa dioptimalkan. Semakin mudah saja rasanya mendapatkan Hotspot dimanapun aku berada. Tapi ketika melihat tablet, rasanya kok jadi kepengen punya ya,........ ?????

Kembali ke pokok judul, sudah 3 bulan ini aku sibuk mencari-cari keterangan perihal kedua barang idamanku ini. Dari mulai sistim operasinya sampai ke gadgetnya sendiri. Lalu apa sih pilihanku perihal tablet ini ? Setelah sekian lama menelusuri internet, masuk room sana-sini, akhirnya keputusan finalku adalah Ipad-2 dengan sistem operasi IOS dari Apple atau Asus Transformer dengan sistim operasi Honeycomb-nya dari Android. Bukan tidak dengan alasan kedua gadget tersebut kupilih, Ipad-2 dengan IOS-nya benar-benar memberikan pengalaman yang "exciting", ditambah dengan banyaknya aplikasi "pilihan" yang tersedia dan telah melewati verifikasi yang ketat benar-benar menyediakan pilihan yang beragam. Kemudian Asus Transformer dengan Android Honecomb-nya juga tidak bisa dianggap remeh. Sistim aplikasi "open source"-nya memungkinkan user untuk mengcustom bebas di gadgetnya, ditambah aplikasi gratisnya yang sangat banyak tersedia cukup membuat kantong bernafas lega.

Sayangnya, harga yang tinggi membuatku masih bermimpi untuk memiliki salah satunya. Budget bulanan yang pas-pas-an serta sudah terjadwal pengalokasiannya membuatku saat ini hanya bisa menahan keinginanku ini.

Semoga saja Allah memberikan kemudahan bagiku untuk bisa mewujudkan keinginanku ini memiliki salah satu dari dua barang diatas. Tidak hari ini,... ya besok, tidak besok,.... ya lusa, tidak lusa,... ya minggu depan,... bulan depan,... atau tahun depan,...

Amiiin,........

Kamis, September 08, 2011

Sebuah Perenungan

Kusut,...!!! mungkin cuma itu kata yang tepat untuk mewakilkan perasaanku saat ini. Sudah 1 bulan ini hati dan fikiran tidak selaras. Gundah berkecamuk di dada, fikiran menerawang jauh mencoba memahami beberapa hal yang hingga saat ini belum kutemui jawabannya.

Jujur, hati ini terasa tercampur-aduk dengan beragam rasa, ada marah disana,... ada lega,... ada sedih,... ada kecewa,... ada takut,... entahlah, terlalu banyak untuk diwakilkan dengan untaian kata.

Dalam gelapnya hati serta fikiran, aku masih berusaha untuk merenungi segala apa yang telah kulewati, mencoba merangkai satu demi satu peristiwa, menjalin untaian kejadian yang mungkin luput dari pemikiran.

Dalam perenungan panjang masih belum kudapatkan apa yang kucari, hanya mencoba membenarkan tindakan yang hatiku sendiri tahu bahwa itu salah. Dari sekian banyaknya pilihan yang ada, saat ini aku enggan untuk memilih,... hanya berusaha mengikuti alur keinginan hati yang ada. Well,... sadar banget kalau itu salah,... tapi itulah kenyataan yang kuhadapi saat ini.

Swear, ini nggak gue banget,...!!! benar-benar keluar dari jalur normal yang biasa aku jalani.

Dalam kelamnya hati dan akal, aku masih berharap ada secercah titik terang yang bisa membawaku keluar dari sisi ini. Tak hentinya munajat kupanjatkan untuk mendapatkan jalan kembali agar langkah dan hati bisa terarah kembali,... agar tubuh dan fikiran bisa selaras lagi,...

Ya,... Muqollibal Qulub,....
Tsabbit Qolbii 'Ala Diinika,...

Wa Ya Muyassiro Kulli 'Asiir,...
Yassir 'alaika Kulla Asiir,...
Fataisiirul 'Asiir 'Alaika Yasiir,...

Rabu, Juli 13, 2011

When you love someone, you've got to learn to let him go,.....

Ini adalah saat terberat dalam perjalanan,ternyata membangun jauh lebih mudah ketimbang mempertahankannya. Kalau sampai hari ini aku masih punya sebuah keyakinan bahwa segala sesuatu akan segera bisa diselesaikan itu karena aku masih yakin dengan niat baik serta cita-citaku dahulu.

Namun seiring dengan waktu, kendala terberat memang datang dari internal kita. Lebih mudah menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang datang dari luar ketimbang permasalahan dari dalam. Memang tidak mudah melawan ego pribadi saat dihadapkan pada sebuah tawaran yang menggiurkan.

Well, inilah hidup. Setiap langkah ibarat bidak catur yang harus dipikirkan dan diperhitungkan dengan matang. Salah jalan berarti kekalahan di depan mata. Hidup memang keras, setiap saat bisa saja berubah. Itulah makna membangun jauh lebih mudah ketimbang mempertahankannya.

Good luck buddy,... i hope you'll find your own way better than now.

Senin, April 25, 2011

Pentingnya Mengaji Diri

Peribahasa mengatakan "Ringan Mata Memandang, Berat Bahu Memikul" yang kalau dalam arti harfiah adalah "Menilai Pekerjaan Orang Itu Sangatlah Mudah, Namun Akan Berbeda Saat Mengerjakannya Sendiri".

Tulisan ini kubuat sebagai bentuk Aji Diri bahwasanya terkadang mudah sekali menngomentari pekerjaan orang, namun belum tentu mudah bila pekerjaan itu dijalani sendiri. Dalam kehidupan sehari hari tentu sering sekali dijumpai betapa orang mudah mencela, mengkoreksi kesalahan orang lain padahal dalam praktek yang sesungguhnya belum tentu mudah saat kita kerjakan pekerjaan orang tersebut. Kebiasaan kita yang suka melihat cangkang ketimbang isinya membuat kita lupa bahwa setiap pekerjaan memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Untuk pekerjaan tukang sampah sekalipun, memiliki kesulitan yang tidak mudah saat kita jalani. Ini yang membuat kita harus selalu mengaji diri sebelum memberikan komentar atau penilaian terhadap usaha seseorang.

Tak ada gading yang tak retak, karena tidak ada suatupun yang sempurna di muka bumi ini. Sungguh suatu hal yang kadang menggelitik hati dikala melihat seseorang dengan ringannya mengomentari pekerjaan orang lain.

Mengaji Diri merupakan suatu cara untuk meneliti ke dalam diri kita sendiri akan kemampuan kita dalam mengemban tugas yang diberikan, menilai pekerjaan orang lain sampai ke inti pekerjaannya sehingga kita tidak akan terlalu mudah menganggap remeh orang lain. Pernahkan terpikirkan oleh kita betapa pekerjaan orang lain itu tidaklah semudah yang dilihat. Kadangkala sisi egois kita selalu timbul manakala melihat pekerjaan orang lain, gatalnya mulut membuat lidah ini tidak bisa diam untuk selalu menilai, mengomentari pekerjaan orang lain padahal belum tentu saat kita kerjakan pekerjaan orang tersebut kita bisa melaksanakannya lebih baik dari yang dilakukan oleh orang tersebut.

Kunci terpenting dalam mengaji diri adalah kerendahan hati untuk mengakui betapa setiap pekerjaan memiliki kesulitan yang berbeda. Sayangnya kita lebih senang melihat pekerjaan orang dengan mata kasar kita ketimbang mata batin kita.

Sabtu, April 02, 2011

My Dream Guitar - It's Classical Acoustic Guitar




Sejak dahulu aku senang banget sama permainan gitar klasik. Disiplin-nya membuat aku tertarik mendalami permainan gitar jenis ini, disamping aku tidak terlalu suka dengan permainan gitar rock.

Sudah sejak lama punya niat untuk mengganti gitar Yamaha C-15 yang sudah setia nemanin selama lebih dari 10 tahun. Akhirnya niat itu kesampaian juga. Gitar ketiga akhirnya bisa selesai juga. Gitar ini adalah Handmade, terbuat dari kayu mahoni untuk bagian belakang, samping dan depan. Sengaja aku pesan ke pembuatnya dengan menambahkan initial nama di Headstocknya.

It's my Dream Guitar, memang belum sesuai dengan apa yang masih menjadi keinginan hatiku, namun ini sudah cukup mewujudkan keinginanku. Hmmh,... sepertinya permainan lagu Capricho Arabe, Canon in D, Asturias dan lainnya akan semakin asik nantinya.

Selasa, September 08, 2009

Yassiruu,... Walaa Tu'assiruu,.... (Permudah,... dan Jangan Mempersulit)

Ada pengalaman berharga dari kalimat di atas, “Permudahlah …. dan Janganlah Mempersulit…”.

Sudah lama ada satu hal yang mengganjal dihatiku, yaitu menyelesaikan permasalahan harta warisan peninggalan orang tuaku. Orang tuaku meninggalkan sebidang tanah dan rumah bagi kami anak-anaknya, dimana didalamnya terdapat pula hak orang lain yang harus segera diberikan.

Jujur sekali aku rasakan betapa permasalahan ini tidak mudah untuk dimufakati karena lain orang berarti lain pula pemikirannya. Sebagai anak lelaki tertua di keluarga, sudah menjadi tugasku untuk segera menyelesaikan urusan ini dengan segera karena aku tahu bahwa semakin aku tunda menyelesaikannya, maka semakin banyak hal ini menjadi potensi masalah dikemudian hari.

Singkatnya, setelah menempuh beberapa kali pertemuan keluarga, akhirnya kami mendapati kesepakatan baik dari jatah pembagian dan rencana ke depannya dimana kami semua sepakat untuk menjual harta waris tersebut.

Lalu apa kaitannya hal ini dengan tema yang aku pasang di atas ?

Mempermudah segala urusan selama bisa dilakukan merupakan satu hal lain yang tidak mudah untuk dilakukan. Mempermudah membutuhkan kebesaran hati untuk menjalankan,… dan keikhlasan hati untuk menerima hasilnya.

Berapa banyak hubungan persaudaraan yang akhirnya pecah karena permasalahan harta waris ? Berapa banyak nyawa yang hilang karena keserakahan ? Itu satu hal yang tidak aku inginkan. Aku selalu menganggap harta warisan merupakan suatu rejeki yang tidak terduga bagiku. Jadi aku selalu berusaha jangan sampai rejeki yang tidak terduga ini membuat apa yang telah ada saat ini menjadi hilang hanya gara-gara memperebutkannya.

Sungguh aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikanku kemudahan dalam seluruh prosesnya. Dari kemudahan proses perhitungannya,… pembagiannya,… hingga penjualannya,… benar-benar atas campur tangan Allah semata.

Seperti yang terjadi kemarin, proses penjualan dibuat demikian mudahnya oleh Allah. Pihak pembeli langsung sepakat dengan tawaran yang diberikan. Proses pemberian uangnyapun dilakukan dengan mudah. Hal ini membuatku sadar bahwa dengan mempermudah segala urusan orang lain, maka Insya Allah segala urusan kitapun akan dipermudah oleh Allah.

Allah berfirman “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”, masalahnya kita tidak pernah menyadarinya. Kita tidak pernah mempasrahkan urusan kita kepada Allah, sebaik-baik dzat yang Maha Mengatur,… sebaik-baik dzat yang Maha Berkuasa dan Berkehendak,…
Tidak ada yang mustahil bagi Allah dan itulah yang harus kita jadikan pegangan dalam berikhtiar. Sayangnya kita sebagai manusia selalu lupa bahwa dibalik ikhtiar yang kita lakukan, selalu pasrahkan hasilnya kepada Allah, karena Allah selalu tahu yang terbaik bagi kita.

Ya Allah,…
Alhamdulillah atas segala kemudahan yang telah engkau berikan kepadaku,… Alhamdulillah atas segala rizki yang telah engkau limpahkan kepadaku, …
Hari ini aku sadari satu hal bahwa sungguh tidak ada yang bisa mencegah sesuatu yang telah Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberikan sesuatu yang telah Engkau cegah.

Senin, Agustus 31, 2009

Suara Emas Sang Idola


Sudah lama aku ingin menulis sesuatu tentang salah satu sosok idolaku. Dialah H. Muammar ZA, seorang qori yang telah berhasil menjadi juara internasional serta mendatangkan banyak inspirasi bagi para qori lain di tanah air maupun dunia.

Sejak di Pasantren, aku benar-benar mengagumi beliau. Suaranya yang khas, tinggi mendayu serta panjang membuatnya layak untuk dijuluki satu dari Qori terbaik sepanjang jaman. Mengapa demikian ? Ya,... karena sampai saat ini masih belum banyak yang dapat menyerupainya.

Aku tidak pernah absen mengikuti pengajiannya sejauh apapun kaki ini melangkah. Bagiku, H. Muammar ZA adalah sosok idolaku. Tak pernah aku berhenti untuk mempelajari seni bacaan Alquran yang diajarkannya. Mungkin jauh dari sempurna, namun aku tetap berharap semoga saja Allah memberikan karunia akan kemampuan beliau mengaji kepadaku.

Dalam sebuah blog, dituliskan sedikit tentang beliau :

Al-Quran Membawaku Keliling Dunia

Suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Quran, mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari lereng gunung, lembah, ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan ke dalam Ka’bah. Lantunan suaranya mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja.

Malam baru saja beranjak, ketika sesosok pria yang masih terlihat muda menaiki panggung dan duduk di kursi yang disediakan. Usai salam dengan suara rendah cenderung serak, pria berperawakan ramping itu mulai membaca ta’awudz dan basmalah. Dengan mata setengah terpejam, perlahan, ia mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama bayati, lagu pembuka qiraah yang bernada rendah.

Perlahan tapi pasti suara itu meningkat, terkadang melengking tinggi, melantun panjang. Di depannya, ratusan orang bagaikan tersihir, terkesima mendengarkan lantunan suaranya yang naik-turun mengirama, bagaikan gelombang ombak yang susul-menyusul menghampiri pantai. Tak jarang, setiap kali alunan suaranya berhenti untuk mengambil napas, puluhan kepala, seperti tersadar dari hipnotis, segera menggeleng takjub.

Ia memang “legenda”. Meski Musabaqah Tilawatil Quran secara rutin digelar di berbagi tingkatan, belum ada satu pun yang menyamainya. Hampir semua umat Islam Indonesia, terutama di pedesaan, jika ditanya siapakah qari yang paling dikenal di Indonesia, jawabnya pasti Ustaz H. Muammar Z.A.

Suaranya yang merdu serta keindahan iramanya dalam melantunkan Al-Quran begitu termasyhur. Kelebihan ini pula yang mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari desa-desa di lereng gunung, tepi lembah dan ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan mengantarkannya masuk ke dalam Ka’bah. Lantunan suaranya yang khas mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja. Ia penah mengaji di istana Raja Hasanah Bolkiah, istana Yang Dipertuan Agong Malaysia, sampai istana raja-raja di Jazirah Arab.

Awal Juli, Alkisah mengunjungi pria kelahiran Pemalang ini di kediamannya di depan Masjid Al-Ittihad, di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ayah satu putri dan empat putra ini bertutur renyah, diselingi tawa segar.

Naik Tandu
“Saya ini anak kampung yang beruntung bisa keliling dunia, bisa mengaji saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah dan saat bermalam di Mina. Bahkan, pada tahun 1981, saya diberi kesempatan masuk ke dalam Ka’bah,” tuturnya haru. “Wah, nggak kebayang sebelumnya. Di dalam Ka’bah saya cuma bisa tertunduk, menangis. Saya nggak berani mengangkat wajah dan memandang langit-langit.”

Lebih dari 25 tahun, Muammar melanglang buana, melakukan perjalanan yang menurutnya sangat mengasyikan. Dalam menghadiri undangan mengaji, ia pernah mencoba berbagai kendaraan, dari mulai naik pesawat pribadi, pesawat komersial, limousine, ojek, sampai tandu. Medan pegunungan Jawa Barat, tuturnya, yang paling sering membuatnya ditandu. Sementara pedalaman Kalimantan dirambahnya dengan glotok, ojek perahu mini yang mampu menjangkau sungai-sungai kecil di pedesaan.

Suatu ketika, ceritanya, ia diundang mengaji di beberapa tempat di daerah Garut. Qari yang puluhan kasetnya masih terus dicari orang ini menempuh perjalanan Bandung-Garut-Cikajang-Singajaya dengan kendaraan roda empat. Namun perjalanan berikutnya yang naik-turun gunung harus dilaluinya dengan ojek, dan terakhir jalan kaki menyusuri jalan setapak.

Kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Muammar tidak mampu lagi berjalan. Panitia yang mengawalnya pun berinisiatif untuk menyewa tenaga orang kampung untuk menandunya sampai di lokasi pengajian. Setelah berjalan kaki selama empat jam, ia pun tiba. Dan yang membuat semangatnya bangkit kembali, ternyata, ratusan hadirin masih dengan setia menunggu kehadirannya.

“Sampai di tempat pengajian jam dua belas malam, saya langsung mengaji,” kenang pangasuh Pesantren Ummul Qura, Cipondoh, ini. “Selesai mengaji, jam setengah dua, kami turun. Sampai di kota Garut jam setengah delapan pagi.”

Tidak sekali-dua kali perjalanan seperti itu dilakoninya. Belum lama ini, untuk kesekian kalinya, Muammar menghadiri undangan ke Cianjur bagian selatan, daerah Cikendir, yang juga harus dilalui dengan jalan kaki berjam-jam di jalan setapak berlumpur. Pulangnya, ia kelelahan. Dan akhirnya, lagi-lagi, ditandu.
Ia memang tidak pernah memilih-milih tempat atau pengundang. Baginya, selama ada waktu, dan kondisi fisiknya memungkinkan, pasti dengan senang hati ia akan hadir. Dari koceknya ia membayar sekitar 500 ribu kepada para pemandunya.

“Niat saya itu kan berkhidmah,” tutur Muammar dengan rendah hati. “Istana, saya datangi. Pelosok kampung pun, saya kunjungi.”

Ia meyakini, ia bisa terus mengaji. Dan kariernya terus langgeng seperti sekarang ini, antara lain, berkat doa orang-orang yang tinggal di pelosok desa dan pegunungan yang pernah dihadirinya mereka itu. “Mereka itu betul-betul ikhlas, baik, dan jujur,” katanya tulus.

“Bayangkan, untuk menghadiri pengajian saya, mereka sampai harus berjalan puluhan kilometer. Bahkan ada yang membawa bekal dan kompor, serta masak di perjalanan.”

Dalam perjalanan berkhidmah ini pula, Muammar pernah mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Cirebon menjelang tahun 1990-an. Mobilnya hancur dan ia pun terluka parah. Cukup lama ia harus menginap di rumah sakit. Saat itulah Muammar merasakan kedekatan dengan para ulama yang bergiliran menjenguknya. Tak jera, setelah pulih ia pun kembali menjelajahi pelosok tanah air, untuk melantunkan firman-firman Tuhannya.

Sejak Belia
Meski masih terlihat cukup muda, Ustaz Muammar tahun ini menginjak usia 51 tahun. Ia dilahirkan di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, sekitar 40 kilometer selatan ibu kota Kabupaten Pemalang, dari pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mu’minatul Afifah, ulama dan tokoh masyarakat di desanya. Muammar adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Namun hanya sembilan yang masih hidup. Belakangan, adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara MTQ. Adiknya yang bungsu, Istianah, kini menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Yogyakarta.

Muammar mengenal qiraah sejak belia. Ia memang berasal dari keluarga qari. Ayah dan kakak-kakaknya dikenal bersuara merdu. Sang ayah adalah pemangku masjid di dusunnya, yang setiap akhir malam melantunkan tarhiman, selawat dan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang guna mendirikan salat Subuh.

Waktu kecil, ia, bersama teman-temannya, belajar seni baca Al-Quran dari teman lain yang lebih besar, yang kebetulan menguasai beberapa lagu. Di samping itu Muammar mulai keranjingan terhadap qiraah, belajar secara serius pada kakaknya, Masykuri Z.A. Namun karena kakaknya tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari desanya, pelajarannya baru akan bertambah jika Masykuri pulang ke rumah ketika liburan.
Namun demikian bakat Muammar mulai kelihatan. Tahun 1962, ia menjuarai MTQ tingkat Kabupaten Pemalang untuk tingkat anak-anak, mewakili SD-nya.

“Waktu itu saya masih memakai celana pendek saat mengaji, he he he,” kenang Muammar.
Sekitar awal tahun ‘60-an, suara dan lagunya memang sudah mulai bagus, meski hafalan suratnya masih terbatas. Ia sudah mulai diundang untuk mengaji di acara-acara pengajian atau pengantinan di kampungnya. Dan lucunya, ayat yang dibaca itu-itu saja. Ketika kakaknya pulang dari pesantren, barulah hafalan ayat dan lagunya bertambah.

Selepas SD, Muammar sempat nyantri di Kaliwungu, Kendal, sebelum melanjutkan ke PGA di Yogyakarta. Selesai PGA, ia sempat juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di Kota Gudeg, ia melanjutkan kiprahnya di bidang seni baca Al-Quran. Muammar mengikuti MTQ tingkat Provinsi DIY yang diadakan oleh Radio Suara Jokja tahun 1967. Ia berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat remaja. Tahun-tahun berikutnya, Muammar ikut lagi dan kembali juara. Tahun itu juga, ia mewakili DIY ikut MTQ tingkat nasional di Senayan tingkat remaja, namun ia belum meraih juara.

Sejak itu, Muammar menjadi langganan tetap kontingen DIY di MTQ Nasional, tahun 1972, 1973, dan seterusnya. Tahun 1979, ia bahkan terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia di sebuah haflah, semacam MTQ internasional, yang diselenggarakan di Mekah. Gelar juara nasional pertama kali diraihnya di MTQ Banda Aceh tahun 1981. Kali ini ia mewakili DKI Jakarta. Muammar yang saat itu tengah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Ciputat, mendapatkan hadiah sebuah televisi. Pemerintah Provinsi DKI sendiri kemudian memberi tambahan bonus hadiah, ibadah haji.

Namun, tidak seperti kariernya di bidang tarik suara, dalam pendidikan Muammar mengakui kurang berhasil. Kuliahnya di PTIQ yang tinggal skripsi tidak selesai. Waktu itu, kata sang qari, ada perubahan peraturan yang agak mendadak. Jika semula syarat ujian skripsi itu hafal lima juz Al-Quran, tiba-tiba diubah menjadi 30 juz.
“Wah, saya nggak siap,” ujar Muammar jujur. Meskipun demikian, uniknya, setelah menjadi juara nasional dan qari internasional, ia justru diminta mengajar di sana.

Tidak Berpantang
Ditanya mengenai rahasia suaranya, suami Syarifah Nadiya ini dengan serius mengatakan tidak mempunyai resep rahasia apa pun. “Dalam hal-hal seperti itu, saya cenderung rasionalis,” ungkap Muammar. “Saya nggak begitu percaya pada hal-hal begituan, seperti nggak boleh makan ini-itu, harus cukup tidur, atau harus tidur jam segini. Bahkan saya jarang tidur lho, apalagi sebelas hari ini saya selalu pulang pagi.”

Ia pun mengakui, meski dulu pernah sekali ikut-ikutan mencoba, tidak berani ikut gurah. “Saya nggak berani ikut,” katanya. “Apalagi yang enggak jelas. Karena, salah-salah malah merusak pita suara. Kalau cuma melegakan, mungkin ya. Tapi kalau dipaksakan begitu lalu saraf tenggorokannya putus, kan malah jadi penyakit, he he he.” Sebenarnya, kata Muammar, kalau memahami tata cara wudu yang benar dan menerapkannya, itu juga sudah menjadi gurah. Misalnya ketika istinsyaq, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkan lagi dengan keras.

Disinggung bagaimana kiatnya menjaga suara, qari yang pernah diundang mengaji di istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan Sultan Hasanah Bolkiah, Brunei, ini mengaku hanya memasrahkan diri kepada Allah. “Niat saya mau ngaji lillaahi ta’ala, ‘Ya Allah, tolong saya’.” Namun yang pasti, setiap bangun tidur ia selalu melakukan warming up, pemanasan, dengan rengeng-rengeng, menggumamkan nada-nada tilawah. Demikian juga ketika akan mengaji. Menurutnya ini penting, untuk menghindari kaget.

Berbeda dengan para penyanyi yang banyak mempunyai pantangan, terutama makanan dan minuman, Muammar menyantap hampir semua makanan dan minuman yang disukainya. Bahkan, makanan kesukaannya adalah sambel, lalap, dan ikan asin, yang harus selalu ada di meja makannya.

“Saya hanya memastikan, ketika saya mau ngaji, kondisi badan saya fit,” ungkapnya, berbagi resep. “Baru kemudian, kunci terpentingnya adalah mengaji dengan ikhlas dan perasaan senang.”

Bagi Muammar, mengaji dengan ikhlas dan senang hati itu menjadi hiburan dan kenikmatan tersendiri. Maka, tak mengherankan, setiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ia tampak begitu menikmati. Terkadang matanya setengah terpejam, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pokoknya saya dengerin sendiri, karena memang pada dasarnya saya suka.” Itu, menurutnya, membuatnya mampu mengaji minimal setengah jam, jika di dalam kota. “Karena mereka kan sering ketemu saya. Tapi kalau di luar kota, terlebih di luar Jawa, saya bisa satu jam, bahkan lebih.”

Dalam satu hari biasanya ia mengaji di tiga sampai empat tempat. Di beberapa tempat, terkadang ia juga berceramah, biasanya jika mubalignya tidak datang. Mengaji itu pula yang mempertemukannya dengan sang istri tercinta, ketika sang pujaan hati yang dinikahinya pada tahun 1984 itu duduk dalam kepanitiaan sebuah pengajian di Kemanggisan. Buah pernikahan dengan wanita berdarah Aceh itu kini sebagian telah beranjak remaja.
Lia Fardizza, putri sulung qari yang pernah berguru kepada Syekh Abdul Kholil Al-Mishri, qari besar Negeri Piramid, kini menginjak semester ketiga di London School, jurusan bahsa Inggris. Sejak TK, Lia memang gandrung dengan bahasa internasional tersebut, terlihat dari hobinya membaca komik-komik berbahasa Inggris. Belakangan ia juga gemar mendendangkan lagu-lagu Barat. Tidak mengherankan, dialek lisannya, menurut Muammar, cenderung ke Amerika.

Putra-putranya, Ahmad Syauqi Al-Banna, kini duduk di kelas 3 SMU, Husnul Adib Al-Hasyim kelas 2 SMP, Raihan Al-Bazzi, kelas 4 SD, dan si bungsu Ammar Yua’yyan Al-Dani, kelas 3 SD. Di antara lima anaknya, tiga di antaranya mewarisi keindahan suara sang ayahanda, Lia, Raihan, dan Ammar. Namun karena keterbatasan waktu serta kesibukan Muammar, diakuinya, potensi putra-putrinya itu belum tergarap.

Menurutnya, qari yang baik itu harus memiliki suara yang bagus, napas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dan, membentuk dialek itu tidak gampang. Orang Jawa, misalnya, akan cukup sulit mengucapkan huruf ba’ dengan benar. Ia sendiri mengaku cukup lama mempelajari dialek Al-Quran dengan memperhatikan dialek qari-qari dari Mesir, Arab, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Qari lokal yang bagus, menurut Muammar, biasanya yang berasal dari pesantren Al-Quran yang kebetulan pengasuhnya juga seorang qari mumpuni. Ini karena sang kiai biasanya mempunyai kelengkapan ilmu qiraah dan kepekaan, maka pembelajaran qiraahnya juga dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan huruf Al Quran), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya.

Dari Pedesaan
Karena itulah, sejak empat tahun Muammar memulai pembangunan sebuah pesantren di daerah Cipondoh, yang dinamakannya Ummul Qura. Karena seorang qari, ia bercita-cita menyebarkan tradisi qiraah ini melalui pesantrennya ini, sebagai sumbangan pada bangsa. “Kalau Allah mengizinkan,” kata Muammar, “saya ingin mencetak Muammar-Muammar baru.” Melalui lembaganya itu pula, ia mengharapkan, seni baca Al-Quran akan kembali dicintai dan dikagumi umat Islam.

Muammar bercita-cita membangun sebuah lembaga pendidikan yang komprehensif, mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA yang mempunyai nilai plus, Al-Quran. Ia mengharapkan bisa membekali santrinya dengan kelengkapan ilmu-ilmu Al-Quran, baik tajwid, qiraah, dasar-dasar tafsir, maupun tahfidz-nya (hafalan Al-Quran). Paling tidak, targetnya setamat SD atau SMP para santri akan mampu membaca Al-Quran dengan fasih, baik, dan benar.

“Terlebih dengan lingkungan yang Islami di pesantren, setidaknya mereka akan mempunyai pegangan hidup.”
Pada tahap awal, sudah dibangun sebuah masjid, ruang baca, dan dua buah gedung asrama. Ke depan ia ingin membangun sekolah formal dulu, baru kemudian akan diasramakan. Namun, karena keterbatasan dana, sementara ini pembangunan Pesantren Ummul Qura tersebut tersendat.

Tanggal 22 Juli kemarin di Gorontalo diselenggarakan Seleksi Tilawatil Quran tingkat nasional. Namun, tidak seperti pada dasawarsa ‘80-an, event empat tahunan yang diselenggarakan untuk menjaring bibit-bibit baru qari dan qariah serta penghafal dan mubalig berbasis Al-Quran ini sepertinya tak lagi memiliki gaung.
“Akhir-akhir ini semangat mendalami seni membaca Al-Quran di masyarakat kita ini memang cenderung mengalami penurunan,” tutur qari yang pernah diminta membaca Al-Quran saat wukuf di Padang Arafah. “Apalagi kecintaan terhadap Al-Quran.”

“Belakangan ini, perhatian orang, terutama generasi mudanya, lebih tercurah ke kontes-kontes musik yang memang lebih memikat,” ujar tokoh berusia 51 tahun ini gundah. “Sementara MTQ, dari dulu kemasannya tidak pernah berubah.” Ia merindukan, MTQ ke depan akan mempunyai gereget dan gaung yang besar, seperti pada masa-masanya dulu.

Lebih lanjut, Muammar juga mengharapkan optimalisasi peran lembaga resmi yang dibentuk untuk mengembangkan seni baca Al-Quran, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran. Idealnya, lembaga tersebut tidak hanya sibuk menjelang pelaksanaan STQ atau MTQ, atau menjaring bahan jadi, tetapi secara intensif dan konsisten menggali dan membina bibit unggul sejak dari tingkat dusun. “Selama ini, bukankah juara-juara tilawah justru banyak muncul dari pedesaan, yang ekonominya pas-pasan....”

(Diambil dari http://ahmad-iftah-shiddiq.blogspot.com/2006/03/ustad-muammar-za.html)